Rekomendasi atau Sekadar Umpan Balik?

Baru kali ini ketemu komik dengan genre romance yang lebih realistis dari komik romance lainnya yang pernah iseng saya baca dulu. Katakanlah, shoujo manga, komik percintaan yang entah mengapa bagi saya terlalu… er… berlebihan, dan terlalu ngayal. Bukan berarti semuanya buruk, ini hanya mayoritasnya saja.

Biasanya, shoujo manga identik dengan gadis imut yang jatuh cinta pada pemuda cakep, terus semuanya berjalan begitu… um… apa ya? Yah, itu, terlalu aneh, maksudku. Yang pasti kebanyakan dari semua peristiwa yang terjadi di dalam shoujo manga terasa mustahil untuk terjadi di dunia nyata. Terlalu mengada-ngada. Ditambah lagi… efek screentone yang terlalu wah dan blink-blink (?) itu kurang disukai oleh saya.

Lalu, komik romance apa yang saya bilang tadi lebih realistis?

Itu… manhwa. Webtoon, lebih tepatnya? Dengan judul, Cheese in the Trap.

Haha, bukan maksud promosi, ah tapi, saya rekomendasikan juga. Apa yang membuat saya menyukai webtoon ini ketimbang shoujo manga adalah:

1. Karakternya yang unik. Dengan tokoh laki-laki berkepribadian misterius dan tokoh perempuan yang suka berpikir berlebihan. Tapi, di situlah poinnya. Ketika kita membaca cerita dan melihat dari sudut si perempuan, prasangka yang sering diduganya itu secara umum juga pasti sering dialami kebanyakan orang. Ini membuat orang yang membacanya merasa senasib dan akhirnya webtoon ini menjadi terasa realistis.

2. Alur ceritanya mungkin membingungkan, maju-mundur. Tapi, karena dulu suka baca cerita misteri, ini menjadi suatu tantangan bagi saya untuk terus melanjutkan membaca dan mengumpulkan tiap keping teka-teki dalam cerita tersebut.

3. Gambar dan pewarnaannya mungkin tampak sederhana dibandingkan dengan webtoon lain yang pewarnaannya lebih berwarna dan efeknya bagus. Tapi, bagi saya, karakter-karakternya tampak lebih ekspresif. Saya suka dengan raut wajah para tokoh saat bereaksi terhadap sesuatu. Terkesan realistis, tapi agak kocak juga.

4. Interaksi kedua tokoh utama laki-laki dan perempuan yang juga menarik dan… lebih masuk akal. Beda dengan shoujo manga yang sering main kontak fisik dan membuat saya eneg bacanya, di webtoon ini, mereka lebih banyak lewat komunikasi tersirat atau tersurat dan juga pedekatenya itu bikin geregetan. Ada juga prasangka yang bikin salah paham. Tapi saya rasa yang terakhir itu sudah umum ya?

5. Konsep dan tema yang diangkat juga berbeda. Dengan mengambil latar perkuliahan yang cukup jarang dibahas di shoujo manga yang umumnya di SMA, saya rasa webtoon ini juga mengangkat tema psikologi dan sosial. Mungkin karena tokoh utama perempuannya suka berspekulasi tentang orang lain, lalu berprasangka, dan interaksi yang dialaminy juga latar belakang keluarganya, membuat webtoon ini memiliki makna yang dalam….

Begitulah kira-kira. Jadi, buat yang ingin baca kisah percintaan tapi nggak mau yang dramatis dan lebay, Cheese in the Trap jadi rekomendasi saya. Nuansanya sedikit suram untuk genre tersebut, penuh teka-teki, menarik, dan pastinya seru. Heheh.


N A N O

Selubung Halimun

[Cerita Pendek]

Ketika media massa dengan hebohnya memberitakan sebuah peristiwa besar yang menimpa hampir seluruh pulau Sumatera dan Kalimantan, mereka tak akan lepas dari laporan kerugian yang diperoleh masyarakat, korban yang berjatuhan, tindakan pemerintah untuk menanggulanginya dan laporan terakhir mengenai kondisi daerah tersebut. Jika ditilik dari dampak yang dialami langsung oleh mereka yang menetap di sana, tentu saja, kurangnya pasokan oksigen yang selama ini selalu keluar-masuk dari dalam paru-paru mereka di sepanjang hidupnya, serta pandangan yang seolah menatap dari balik kaca yang berembun. Sungguh, sangat mengganggu, dan kentara sekali dampak tersebut telah merambat ke mana-mana. Dari hutan ke pemukiman, menuju perbatasan ke arah kota … dan kabarnya, bahkan sampai menyeberangi lautan.

Sungguh, pencemaran udara telah menyebar dengan kecepatan yang menyaingi kabar angin yang dihembus dari mulut ke mulut.

Dan dampaknya, apa hanya sebatas mengganggu?

Tidak, bahkan sampai menyakiti. Membuat yang hidup merasa ragu untuk bernapas, jika hanya dapat merasakan sesaknya dada yang tiada akhir. Anak-anak yang tak sanggup, akan terjangkit infeksi saluran pernapasan yang sama menyakitkannya dengan asma. Bernapas pun sulit, tak bernapas lebih tak sanggup.

Apa yang mesti dikritisi? Keegoisan manusia? Keserakahannya?

Tidak, terpikirkan olehnya pun tidak.

Oleh anak perempuan berkacamata yang telah mendekam seharian di dalam kamarnya, dengan tirai jendela yang tertutup rapat—bahkan seleret cahaya pun tak dapat menembusnya.

Binar matanya yang seakhiran ini mengerling hampa pada ketiadaan, yang selama ini bagaikan bintang kejora di antara gemintang yang bertabur di kanvas malam … membuat sang anak dinamai sedemikian rupa.

Kejora.

Namun, amat disayangkan sekali, melihat paras manis di usianya yang belia itu, kini hanya diselimuti raut cemas yang tertekan, membuatnya tampak seperti mengalami gangguan mental.

Meskipun, secara harafiah, dapat dikatakan benar. Baca lebih lanjut

Sudut Halaman

[Cerita Pendek]

Sarah memandangi rumah besar itu dari balik jendela kamarnya. Tak ada lagi kata-kata yang terlintas di kepalanya untuk menggambarkan penampilan rumah itu selain kata ‘kusam’, ‘suram’, dan ‘terbengkalai’. Jika Sarah ingin jujur, rumah tersebut tidak begitu buruk—dengan desain eksteriornya yang kontemporer dengan rumah-rumah modern di daratan biru sana, bertingkat dua dan memiliki satu balkon di atas teras rumahnya, tentu sangat menyenangkan bila dapat berdiri di atas sana dan memandangi langit senja. Namun sayangnya, rumah kusam, suram, dan terbengkalai itu telah ditinggalkan oleh pemiliknya—atau lebih tepatnya dijual.

Kalau saja orangtua Sarah memiliki uang yang banyak, mungkin saja ia akan meminta mereka membeli rumah itu dan pindah ke sana, sehingga ia tidak perlu lagi memandangi rumah kusam yang amat disayangkan itu. Bukan berarti bahwa ia tidak mensyukuri atas apa yang telah ia miliki, hanya saja … kalau ia berandai-andai.

Tetapi, di samping kemegahan rumah yang diselimuti debu-debu lama yang tak pernah dibersihkan, Sarah merasa bahwa rumah itu sedikit … angker.

Bukannya ia percaya klenik atau takhyul.

Itulah yang didengarnya dari anak-anak tetangga. Baca lebih lanjut

Kelas yang Tersayang

Saya tak akan banyak berbicara ataupun berkomentar ….

Saya hanya ingin berbagi foto-foto kelas saya semasa masih bersih-bersihnya (ini karena kebetulan habis gotong-royong sih) … dan oh ya, mungkin sekarang sudah amat langka sekali kelas ini ditemui rapi dan sebersih ini (uhuk!).

Satu lagi, kelas ini sewaktu masih berlabel ‘X-IPA Al-Kindi’, dan kini sudah berganti menjadi ‘XI-IPA Ibnu Sina’ (ya, saya nggak pindah kelas).

Juga … saya belum meminta izin pada orang yang tak sengaja tertangkap di kamera perihal menyebarkan foto-foto ini di internet … sudahlah, abaikan saja. Baca lebih lanjut

Kelas Dua SMA

Haha, entahlah. Kadang kalau direnungi kembali, masih nggak nyangka kalau sekarang jatuhnya saya udah kelas 2 SMA (gegara nggak ada seragam putih abu di sekolah yang merupakan madrasah aliyah sama perawakan teman sekelas yang kadang tidak mencerminkan anak SMA). Di satu sisi, sebenarnya menyenangkan juga, sih. Jadi merasa masih muda terus, wajah-wajah teman sekolahan juga banyak yang belum menampakkan perubahan. Satu-satunya yang menyadarkan sayabahwa sekarang ini udah SMA adalah pelajarannya yang makin ruwet.

Yah, terus kenapa kalau udah kelas 11? Hanya sedang terpikir: sekarang udah jadi sepantaran sama tokoh-tokoh anime/manga yang rata-rata berusia 17 tahun/kelas 2 SMA. Dan kalau di anime/manga-nya sedang menyinggung pelajaran di sekolah sana, sekarang udah bisa paham, dan suka membandingkan dengan pelajaran di sekolah saya juga.

Tapi, mengapa kebanyakan masa kelas 2 SMA itu sering digunakan sebagai status para tokoh di anime/manga?

Menurut saya:

Pertama, karena masa SMA adalah masa remaja yang paling menyenangkan. Bukan lagi masa peralihan dari anak-anak saat di SMP, atau masa peralihan dewasa saat kuliah.

Kedua, di masa SMA, kelas 2 merupakan kondisi yang cukup stabil. Karena saat kelas 1 masih anak baru di sana, jadi belum begitu familier dengan teman, guru, ataupun lingkungan sekolahnya. Sedangkan saat kelas 3, itu adalah masa paling krisis (?) karena sudah mulai disibukkan untuk persiapan UN. Jadi, kelas 2 itu sudah tepat. Karena belum begitu disibukkan dengan ujian akhir dan juga sudah familier dengan sekolahnya, sehingga lebih nyaman dalam bersosialisasi maupun beraktivitas.

Kurang lebih, sih, begitu.

Saya sendiri juga merasa cukup menyenangkan di kelas 11 ini. Sekarang saya punya kenalan kakak kelas dan adik kelas baru, jadi nambah teman. Terus juga kegiatan ekskul yang saya ikuti ini (mading dan jurnalistik) mendapat anggota baru, sehingga anggota lama yang kelas 11 mulai menggantikan jabatan redaksi dari kakak kelas 12 yang semester 2 mulai nonaktif ikut ekskul. Di kelas 11 ini juga saya ingin produktif dalam berkarya, dan ingin mengusulkan beberapa improvisasi juga.

Yah … nikmatilah masa SMA-mu, terutama saat kelas dua SMA (haha).


N A N O

Tahun Ajaran Baru

Setelah liburan panjang selama 40 hari, akhirnya sebentar lagi bakal kembali ke sekolah. Sempat timbul kontradiksi dalam pikiran saya, sekolah atau liburan?

Bukan berarti saya bisa memutuskan sekehendak hati, hanya saja, saya ingin menata perasaan (?) untuk menyambut tahun ajaran baru nanti. Mengapa begitu? Karena ….

Saya akan jadi kakak kelas.

Yah, selain bersemangat perihal kelas baru, akan ada banyak murid baru nantinya. Yang selama ini hanya menjadi junior yang baik dan tidak cari masalah, sekarang akan menjadi senior yang harus berlaku baik-baik pada juniornya. Wah, jadi aneh, rasanya.

Tapi … lupakan soal itu.

Sebenarnya, saya ini ingin masuk ke sekolah atau tetap liburan? Mana yang lebih saya sukai?

Akhir-akhir ini, saya seringkali bermimpi tentang sekolah dan kelas baru. Segala hal yang menyangkut rutinitas sekolah sering muncul dalam mimpi. Mungkin ini karena saya mulai jenuh dengan liburan yang selalu berada di rumah. Karena itu, saya sempat menanti-nanti berakhirnya liburan.

Tetapi … di sisi lain, masih banyak yang ingin saya lakukan selama liburan. Semakin mendekati akhir liburan, semakin banyak pula inspirasi. Padahal ketika sedang liburan, lebih banyak santainya daripada menjadi produktif. Memang, selama liburan, saya sempat berlatih menggambar digital dan mengetik cerita, namun, bagi saya itu belum cukup memuaskan. Masih ada yang ingin saya kerjakan.

Hanya saja, seberapa pun saya menginginkan liburan jangan berakhir, kenyataan tetap di depan mata. Sebentar lagi masuk sekolah, mau tak mau harus mempersiapkan perlengkapan sekolah.

Iya, dengan begitu, saya juga harus menata perasaan saya dengan baik.

Sambutlah tahun ajaran baru dengan gembira! Karena akan ada adik kelas baru, ruang kelas baru, guru yang mengajar baru, dan anggota ekskul MDT/JE baru.

Yep, serba baru.


N A N O

Bosan, Jenuh, Berujung Depresi

Disebabkan oleh bulan puasa yang bertepatan dengan liburan kenaikan kelas, maka lamanya waktu yang diberikan untuk tidak belajar di sekolah adalah 40 hari—di sekolah saya.

Awalnya, saya dan teman-teman sekolah lainnya sangat antusias mendengarnya, dan mulai menyusun agenda tersendiri untuk menghabiskan waktu panjang tersebut. Begitu juga saya. Pada postingan pertama saya, saya sudah menuliskan garis besar apa-yang-harus-dilakukan oleh saya nantinya. Minggu pertama liburan, saya masih bersemangat dan mulai mengerjakan apa yang saya inginkan. Menulis, membaca, menggambar … antusiasme itu masih melekat. Tetapi …

Mulai memasuki pertengahan liburan, saya mulai jenuh.

Biasanya, setiap pagi, selepas sahur dan salat Subuh, saya akan duduk dengan tenang di depan meja belajar dan mengerjakan sesuatu. Seharian penuh bisa betah di sana terus, apalagi kalau ide sedang meluap dan menggelegak. Rasanya ingin ditumpahkan segera, entah dalam bentuk ilustrasi atau tulisan. Apalagi saya ini tipikal yang suka berdiam diri di rumah dan pasif ketimbang keluyuran di jalan dan aktif kesana kemari. Cukup memandang dari jendela kamar atau dari beranda rumah saja, itu sudah dianggap sebagai keluar.

Iya, saya pikir itu semua cukup. Membelenggu diri di rumah saja sudah cukup.

Rupanya tidak.

Buktinya, saya sudah berada di puncak kejenuhan. Ini saya sadari dari beberapa hari lalu, saya tidak lagi merasakan antusiasme tersebut. Lebih banyak tidur dan merenung. Apalagi karena puasa, saya makin terlihat menyedihkan. Bukan berarti karena puasa itu menghambat. Bukan. Tetapi, sepertinya … saya kurang hiburan.

Televisi dan internet saja tak cukup. Dan tampaknya saya sudah memikirkan solusinya.

Yaitu jalan-jalan.

Saya sadar, selama liburan, saya seperti seseorang yang dipasung saja, padahal pintu rumah terbuka lebar bagi saya untuk keluar, namun saya tak tahu mau ke mana.

Mungkin, jika nanti ibu saya mengajak saya keluar untuk membeli keperluan lebaran, kejenuhan saya akan dapat tersembuhkan.

Saya depresi.


N A N O

Mading dan Jurnalistik

Saya termasuk anggota mading dan jurnalistik di sekolah saya, namun saya masih merasa ada yang kurang selama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut.

Entahlah, pertama kali saat saya masih kelas sepuluh, saya menemukan sebuah brosur yang ditempeli di setiap pintu kelas. Brosur itu berisi tentang penerimaan anggota baru ekskul mading dan jurnalistik. Awalnya, saya mengira kalau mading dan jurnalistik itu adalah dua ekskul yang berbeda, sehingga saya mendaftarkan diri dan mengirimkan karya mading seukuran setengah karton sebagai pemenuhan persyaratan.

Saya diterima.

Gembira sekali rasanya. Akhirnya saya menemukan ekskul yang tidak melibatkan kegiatan outdoor dan lebih dominan indoor. Saat saya mendaftarkan diri, saya tidak pernah sekalipun tertarik dengan jurnalistik (terutama yang berhubungan dengan wawancara). Maka dari itu saya dengan pe-de-nya mengirim karya mading saya ke kakak ketua ekskul tersebut. Namun, ketika pertama kalinya saya menghadiri pertemuan pertama ekskul mading dan jurnalistik itu, saya dikejutkan fakta bahwa setiap anggota yang bergabung di ekskul mading juga merupakan anggota ekskul jurnalistik, begitupun sebaliknya. Memang, sih, dari yang saya tahu ekskul tersebut menjadi satu naungan, tetapi saya kira anggotanya tetap terpisah. Dan ternyata tidak, hanya ketuanya saja yang berbeda, namun anggotanya menjadi suatu kesatuan.

Yah, tidak masalah. Saya terima saja.

Lagipula, jurnalistik itu lumayan juga. Menulis artikel … hanya itu yang saya bisa, karena masih berhubungan dengan tulis-menulis. Lha, kalau mesti wawancara? Saya nggak bisa ….

Namun, karena sudah terlanjur bergabung dan harus terima segala konsekuensi, maka mau tak mau saya harus memaksakan diri untuk bisa.

Mewawancarai teman-teman satu sekolah, baik itu seangkatan atau berbeda, dengan topik yang telah ditentukan … rasanya membuat saya mules. Mungkin masih mending juga kalau bisa mewawancarai teman yang dikenal, tapi kalau terpaksa mewawancarai kakak kelas? Muka saya sudah menyerupai tembok.

Tapi … yang saya suka dari jurnalistik ini adalah bahwa artikel-artikel dan hasil wawancara (disebut juga ‘cuap’) akan dimuat di koran! Wah, ternyata ekskul jurnalistik ini telah bekerja sama dengan redaksi koran JE. Agak senang, sih, waktu pertama kali tulisan artikel saya dimuat di koran. Antara ingin tergelak atau meringis. Kira-kira tulisan saya layak dibaca, tidak?

Yap, jurnalistik sudah oke, lalu bagaimana dengan mading?

Nah, justru itulah yang menjadi magnet pada ketertarikan saya. Dengan berbekal kemampuan mencorat-coret (bisa disebut menggambar), maka saya pun mendaftarkan diri ke sana. Di ekskul mading dan jurnalistik, kemampuan setiap anggotanya beragam. Ada yang suka merangkai kata-kata puitis, ada yang sering menulis cerita, ada yang pandai menggambar, ada yang punya banyak ide, dan ada juga yang pintar mengumpulkan informasi. Dari kemampuan itulah, para anggota mendapat tugas karya mading yang sesuai. Misalnya saja, saya sering mendapat tugas membuat gambar-gambar yang bersangkutan dengan tema mingguan, kadang-kadang juga pernah disuruh nulis artikel. Nanti, pada saat pertemuan ekskul yang diadakan sepulang sekolah sekali seminggu, barulah semua karya dikumpulkan dan mulai menempelinya di karton dan menghias bersama. Biasanya kegiatan mading dilakukan setelah perbincangan mengenai jurnalistik dahulu. Diawali dengan mengisi absen, terus pembagian tugas untuk minggu depan, mengumpulkan karya, barulah membuat mading.

Sebenarnya, semua kegiatan itu sangat seru. Saya yang awalnya sempat tidak tertarik dengan jurnalistik akhirnya bisa sedikit. Dan saya yang awalnya jarang kenal dengan kakak kelas jadi bisa berbicara dengan para kakak kelas di ekskul mading dan jurnalistik. Meskipun agak kikuk, tapi akhirnya mencair juga. Ikutan ketawa, menyimak perbincangan mereka, dan tahu beberapa informasi.

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya apa yang masih saya anggap kurang dari ekskul tersebut?

Untuk jurnalistik, saya tidak banyak berkomentar, karena saya hanya mengikuti saja apa yang ditugaskan pada saya. Namun, untuk mading, saya ingin mengkritik sesuatu. Secara mading adalah hal yang membuat saya tertarik.

Yaitu, kurangnya kekreatifan dalam pembuatan mading.

Bukan apa-apa, tapi sebenarnya susunan madingnya seperti tidak teratur, atau kurang menarik. Mungkin karena tidak adanya ornamen lainnya yang membuatnya unik, atau tampilannya yang tampak biasa saja. Saya sempat baca-baca di internet tentang penyusunan mading, dan katanya diperlukan struktur mading untuk membuatnya lebih teratur dan rapi. Misalnya seperti pembagian kolom atau semacam rubrik.

Hmm … meskipun saya agak mengeluhkan itu, saya tidak bisa mengungkapan gagasan tersebut.

Saya ini … seperti terkena mental block dalam mengajukan pendapat. Kepercayaan diri yang serasa menguap entah ke mana.

Yah, walaupun begitu, bagi saya ekskul tersebut tetap seru dan menarik.

Apalagi namanya unik.

“Mading Detektif Tinta & Jurnalistik JE”


N A N O

Lembar Fakta Aoyama Gosho

Selamat ulang tahun, Aoyama Gosho-sensei!

Meskipun telat sehari, tetapi lebih baik begitu daripada tidak sama sekali, bukan?

Untuk ‘merayakannya’, saya akan menulis tentang beberapa fakta dan segala sesuatu yang berhubungan dengan komikus serial Detektif Conan ini. Bersumber dari Detektif Conan: Super Digest Book, saya akan menjabarkannya dengan ringkas setelah mengambil poin-poin utamanya dari buku tersebut.

-Profil-
Aoyama Gosho, dilahirkan di perfektur Tottori pada tanggal 21 Juni. Debut pada tahun 1986 dengan komik ‘Chotto Mattete’ (Tunggu Sebentar). Pada tahun 1992, ‘Yaiba’ memenangkan Shogakukan Manga Award untuk komik kategori anak-anak dan pada tahun 2001, ‘Detektif Conan’ menang untuk kategori remaja.

DC: SDB 10+

* Anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya seorang ilmuwan, adik di bawahnya penerus usaha reparasi sepeda milik keluarga, dan adik bungsunya seorang dokter.
* Hampir semua yang pernah dilakukan oleh Grup Detektif Cilik pernah dilakukannya.
* Jika bergabung dalam Grup Detektif Cilik, posisinya antara Mitsuhiko atau Conan. Baiknya adalah Conan dan buruknya adalah Mitsuhiko.
* Suka menciptakan trik sejak kecil dan bermain detektif-detektif-an.
* Waktu kecil suka bermain bisbol. Tim favoritnya adalah Giants dan atlet favoritnya adalah Nagashima.
* Berlatih kendo dari kelas 4 SD sampai 2 SMA.
* Menyukai komik ‘Ora Wa Teppei’ karya Tetsuya Chiba.
* Menyukai sesuatu yang berhubungan dengan samurai. Komik samurai yang disukainya karya Akira Kurosawa berjudul ‘Tsubaki Sanjuro’.
* Menyukai detektif dan phantom sejak kecil, seperti Sherlock Holmes dan Lupin.
* Membaca ‘Arsene Lupin’ lebih dulu dibanding ‘Lupin The Third’.
* Menulis ingin jadi detektif pada karangan kelulusan SD, namun karena syaraf motoriknya kurang bagus, maka digantinya ingin membuat komik detektif.
* Mulai membuat komik saat kuliah dan mengambil jurusan gambar untuk jadi guru gambar.
* Orang tuanya sangat benci komik dan sering menghancurkan komik yang digambarnya dulu.
* Samurai, detektif, dan bisbol adalah dasar dari kekuatan penciptaan komiknya.
* Pemicu debut pertamanya adalah seorang komikus manga shoujo, yang merupakan seniornya bernama Yutaka Abe. Itulah pemicu lahirnya komik pertamanya ‘Chotto Mattete’.
* Gagasan diciptakannya komik ‘Conan’ membutuhkan persiapan selama dua minggu setelah tamatnya komik ‘Yaiba’.
* Terinspirasi menciptakan karakter Shinichi dan Conan dari buku ‘Mikeneko Holmes’ karya Jiro Akagawa yang bercerita tentang seekor kucing kecil yang bisa menganalisa dan jika mengikuti kucing itu akan ditemukannya mayat atau sesuatu yang mencurigakan. Lalu ia mengandaikan jika tokohnya seorang anak kecil.

DC: SDB 20+

* Sampai jilid 10, monokrom ‘Conan’ dibuat dengan G-pen, sekarang memakai milipen.
* Akhir-akhir ini pakai komputer grafis karena bisa di-undo kalau gagal.
* Tampilan munculnya wajah pada kotak berbentuk belah ketupat di halaman terakhir ‘Conan’ adalah dampak dari Akemi Matsunae yang seorang komikus manga shoujo.
* Mendengarkan musik J-pop di TV kabel saat sedang bekerja. Menyukai Southern All Stars, Tatsuro Yamashita, Eiichi Otaki, Two Mix, dan Mai Kuraki.
* Sering mendengarkan album ‘UFO CLUV’ band The Collectors selama pembuatan serial sehingga mengembangkan konsep ‘Conan’.
* Titik awal roman komedi yang menjadi salah satu genre komiknya adalah film drama TV ‘Danjo Shichinin Natsu Monogatari’.
* Game yang sering dimainkannya adalah ‘Culdcept’, suka game simulasi karena bisa dibatasi pada tiap tahap dan juga game RPG.
* Saat mengerjakan ‘Yaiba’ sering memainkan game Dragon Quest dan FF.
* Selain memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari dan juga mengumpulkan data dari internet, pernah mencari berita di markas besar kepolisian untuk gagasan trik.

DC: SDB 30+

* Pernah meminta tolong pada staf dalam tahap pembuatan anime untuk tidak membuat Conan menangis.
* Sejak semula, Conan digambar dengan suara Minami Takayama yang juga pengisi suara Kurogane Yaiba.
* Ada Jembatan Conan yang terdapat di kota Daiei, perfektur Tottori, kampung halamannya.
* Mendengar pengumuman tentang pembuatan pertama film ‘Conan’ saat sedang berada di Las Vegas.

DC: SDB 40+

* Penciptaan karakter dan nama tokoh di ‘Conan’ kadang dipengaruhi oleh pengisi suaranya.
* Frekuensi pemunculan tokoh seperti Shinichi atau Heiji didasarkan pada keinginan suara penggemar.
* Sering mengobrol dengan para penulis lain seperti Kazuhiro Fujita, Daichi Banjo, Mitsuru Adachi, Rumiko Takahashi, dan Hiroyuki Nishimori saat di pesta.
* Tidak ada yang menyadari hubungan khususnya dengan Minami Takayama selain kepala asistennya.
* Munculnya kucing ‘Goro’ dalam komik karena mendapat kucing peliharaan sebagai hadiah pernikahan.
* Foto pada sampul komik ‘Conan’ volume 51 adalah foto kucing peliharaannya.

Demikian beberapa fakta yang saya ketahui tentang Aoyama Gosho dari buku Detektif Conan: Super Digest Book ini. Tulisan ini dapat diubah dan ditambahkan sewaktu-waktu oleh saya nanti.


N A N O